SEKILAS INFO
: - Senin, 14-10-2019
  • 6 bulan yang lalu / Selamat menempuh Ujian Nasional Berbasis Komputer dari tanggal 1 s/d 8 April 2019 bagi peserta didik kelas XII SMA Negeri 1 Ungaran, semoga diberi kemudahan, kelancaran dan hasil yang terbaik.
ROLE PLAYING (BEMAIN PERAN) DALAM SIKLUS HIDUP VIRUS

Virus merupakan makhluk hidup molekuler juga sebagai  makhluk aselular  yang  tidak memiliki organel -organel. Virus tidak dapat melangsungkan proses metabolisme, maupun  .reproduksi sendiri. Virus membutuhkan sel makhluk hidup lain sebagai inang agar dapat hidup, yang mengakibatkan kerugian pada organism lain.Virus petama kali diselidiki oleh Adolf meyer seorang ilmuwan Jerman yang menyelidiki penyakit yang menyebabkan daun tembakau berbintik – bintik kuning . ia berkesimpulan bahwa penyebabnya adalah organisme yang lebih kecil dari bakteri. Kemudian Dimitri Ivanosky melakukan penyelidikan yang sama dengan menyaring ekstrak daun tembakau dan berkesimpulan bahwa makhluk ini menghasilkan racun., Ilmuwan  berikutnya Beijerinck, melakukan penyelidikan lebih lanjut pada daun tembakau. Ia bekesimpulan bahwa organisme  penyebab penyakit tersebut hanya dapat berkembang biak didalam tubuh makhluk hidup, berikutnya ilmuwan dari Amarika serikat bernama Wendell Stanley berhasil mengkristalkan virus dari daun tembakau.

Virus membutuhkan sel inang sebagai tempat untuk bereproduksi. Siklus reproduksi virus ada dua yaitu Siklusr litik dan Siklus lisogenik.Selama ini dalam memahami siklus litik dan siklus lisogenik siswa hanya berdiskusi secara kelompok ,sehingga hasilnya kurang dipahami dan dimengeti oleh siswa sehingga hasil penilaiannyapun kurang memuaskan. Nah untuk memahami siklus litik dan siklus lisogenik perlu mengeksplor kemampuan siswa , untuk itu, Bermain peran merupakan solusi untuk lebih memahami dan lebih mengerti tentang siklus litik dan  siklus lisogenik. Siklus litik memiliki 7 langkah, dan silklus lisogenik memiliki 5 langkah, Dalam metoda bermain peran ,langkah pertama siswa di kelompokan menjadi beberapa kelompok sesuai langkah- langkah yang ada pada siklus litik dan siklus lisogenik.kemudian mereka berdiskusi tentang peran apa yang harus dilakukan pada masing-masing kelompok, dan setiap kelompok bisa berperan sebagai siklus litik dan bisa berperan sebagai siklus lisogenik, kemudian yang berperan  sebagai siklus litik, di bagi –bagi lagi, ada yang berperan sebagai virus, ada yang berperan  sebagai bakteri, dan ada yang berperan sebagai moderator, yang berperan sebagai virus 5 orang, sebagai bakteri, setiap langkahnya ada 4 orang  pada langkah 1- 6, pada langkah 7 ada 5 orang, jadi setiap orang dalam kelas tersebut bisa ikut andil memerankan  siklus litk maupun siklus lisogenik tetapi  harus dilakukan bergantian, setelah permainan selesai baru diambil kesimpulan.

Permainan ini seru, santai mereka merasa senang dan materi bisa tersampaikan pada siswa ,sehingga hasilnyapun sangat memuaskan.

Dengan mengutip dari Shaftel dan Shaftel, E. Mulyasa (2003) mengemukakan tahapan pembelajaran bermain peran meliputi

Menghangatkan suasana dan memotivasi peserta didik.

Menghangatkan suasana kelompok termasuk mengantarkan peserta didik terhadap masalah pembelajaran yang perlu dipelajari. Hal ini dapat dilakukan dengan mengidentifikasi masalah, menjelaskan masalah, menafsirkan cerita dan mengeksplorasi isu-isu, serta menjelaskan peran yang akan dimainkan.

Tahap ini lebih banyak dimaksudkan untuk memotivasi peserta didik agar tertarik pada masalah karena itu tahap ini sangat penting dalam bermain peran dan paling menentukan keberhasilan. Bermain peran akan berhasil apabila peserta didik menaruh minat dan memperhatikan masalah yang diajukan guru.

Memilih peran

Memilih peran dalam pembelajaran, tahap ini peserta didik dan guru mendeskripsikan berbagai watak atau karakter, apa yang mereka suka, bagaimana mereka merasakan, dan apa yang harus mereka kerjakan, kemudian para peserta didik diberi kesempatan secara sukarela untuk menjadi pemeran.

Menyusun tahap-tahap peran

Menyusun tahap-tahap baru, pada tahap ini para pemeran menyusun garis-garis besar adegan yang akan dimainkan. Dalam hal ini, tidak perlu ada dialog khusus karena para peserta didik dituntut untuk bertindak dan berbicara secara spontan.

Menyiapkan pengamat

Menyiapkan pengamat, sebaiknya pengamat dipersiapkan secara matang dan terlibat dalam cerita yang akan dimainkan agar semua peserta didik turut mengalami dan menghayati peran yang dimainkan dan aktif mendiskusikannya.

Pemeranan

Pada tahap ini para peserta didik mulai beraksi secara spontan, sesuai dengan peran masing-masing. Pemeranan dapat berhenti apabila para peserta didik telah merasa cukup, dan apa yang seharusnya mereka perankan telah dicoba lakukan. Ada kalanya para peserta didik keasyikan bermain peran sehingga tanpa disadari telah mamakan waktu yang terlampau lama. Dalam hal ini guru perlu menilai kapan bermain peran dihentikan.

Diskusi dan evaluasi

Diskusi akan mudah dimulai jika pemeran dan pengamat telah terlibat dalam bermain peran, baik secara emosional maupun secara intelektual. Dengan melontarkan sebuah pertanyaan, para peserta didik akan segera terpancing untuk diskusi.

Pemeranan ulang

Pemeranan ulang, dilakukan berdasarkan hasil evaluasi dan diskusi mengenai alternatif pemeranan. Mungkin ada perubahan peran watak yang dituntut. Perubahan ini memungkinkan adanya perkembangan baru dalam upaya pemecahan masalah. Setiap perubahan peran akan mempengaruhi peran lainnya.

Diskusi dan evaluasi tahap dua

Diskusi dan evaluasi tahap dua, diskusi dan evaluasi pada tahap ini sama seperti pada tahap enam, hanya dimaksudkan untuk menganalisis hasil pemeranan ulang, dan pemecahan masalah pada tahap ini mungkin sudah lebih jelas.

Membagi pengalaman dan mengambil kesimpulan

Pada tahap ini para peserta didik saling mengemukakan pengalaman hidupnya dalam berhadapan dengan orang tua, guru, teman dan sebagainya. Semua pengalaman peserta didik dapat diungkap atau muncul secara spontan.

 

 

Dra. Tuti Sugiarti, M.Pd

Guru biologi SMA N 1 Ungaran

TINGGALKAN KOMENTAR